![]() |
| Arsenal saat menjuarai EPL tanpa terkalahkan di musim 2003-2004 |
Belakangan ini, saya cukup sering menemukan slogan "Arsenal vs Everybody" di media sosial. Terlebih Arsenal akhirnya "buka puasa" dengan menjuarai EPL musim 2025-2026 setelah 22 tahun lamanya tidak pernah merengkuh trofi major lagi sejak era invincible di 2004, momen awal saya menjadi klub asal London ini. Puncaknya setelah klub ini mencapai final Liga Champions Eropa, lagi, untuk kedua kalinya setelah era prime legenda Thiery Henry dkk, 20 tahun lalu saat kalah menyakitkan dari Barcelona di partai final. Walaupun akhirnya harus merelakan gelar yang belum pernah direbut klub ini sepanjang sejarahnya.
Bagi yang tidak mengikuti sepakbola, slogan ini kurang lebih menggambarkan perasaan sebagian pendukung Arsenal bahwa klub mereka selalu menjadi sasaran kritik, ejekan, atau setidaknya menjadi bahan diskusi dari para pendukung klub lain. Sebaliknya, para pendukung klub lain sering berargumen bahwa penyebabnya sederhana: fans Arsenal terlalu berisik.
Sebagai seseorang yang sehari-hari lebih banyak berkutat dengan GIS, penginderaan jauh, dan analisis risiko bencana dibandingkan debat sepakbola, saya jadi penasaran. Benarkah fenomena ini hanya soal "berisik" atau ada penjelasan lain?
Tanpa diminta siapa pun, mari kita analisis menggunakan teori kebencanaan.
Risiko Tidak Pernah Hanya Soal Ancaman
Dalam ilmu kebencanaan, risiko sering disederhanakan sebagai fungsi dari:
Risk = f(Hazard, Exposure, Vulnerability, Capacity)
Artinya, risiko tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya ancaman (hazard), tetapi juga oleh siapa yang terpapar (exposure), seberapa rentan mereka (vulnerability), dan seberapa besar kemampuan mereka untuk menghadapinya (capacity).
Konsep ini biasanya digunakan untuk menjelaskan mengapa gempa dengan magnitudo yang sama dapat menghasilkan dampak yang berbeda di lokasi yang berbeda. Ternyata konsep yang sama cukup menarik untuk menjelaskan fenomena sepakbola modern.
Arsenal Era Invincibles: Hazard Tinggi, Exposure Rendah
Musim 2003/2004 merupakan salah satu musim paling legendaris dalam sejarah Liga Inggris. Arsenal menjuarai liga tanpa mengalami satu pun kekalahan sepanjang musim. Jika kita menggunakan analogi kebencanaan, Arsenal saat itu memiliki "hazard" yang sangat tinggi. Mereka benar-benar dominan.
Namun ada satu perbedaan besar dibanding sekarang. Media sosial hampir belum ada. Twitter belum lahir. Instagram belum ada. TikTok bahkan masih jauh dari imajinasi para pengembang internet saat itu. Facebook pun baru dikenalkan Mark Zuckerberg, dengan fitur yang minim sekali dibanding fitur medsos jaman sekarang.
Kalau ingin berdebat soal sepakbola, biasanya dilakukan di kantor, kantin kampus, warung kopi, mailing list, atau forum internet tertentu. Bahan diskusinya? Artikel di surat kabar atau majalah. Akibatnya, meskipun "hazard" Arsenal sangat besar, tingkat paparannya (exposure) relatif rendah. Orang yang tidak ingin mendengar opini fans Arsenal dapat dengan mudah menghindarinya. Bahkan, tidak perlu menghindar. Keluar dari warkop, debat atau banter tidak berlanjut. Masing-masing kembali ke realitasnya.
Tapi sekarang...
Arsenal Era Sekarang: Exposure yang Meledak
Menariknya, banyak pengamat berpendapat bahwa Arsenal saat ini belum mencapai tingkat dominasi seperti era The Invincibles. Namun persepsi bahwa fans Arsenal "ada di mana-mana" justru jauh lebih kuat.
Mengapa?
Jawabannya mungkin bukan karena fans Arsenal bertambah berisik. Melainkan karena media sosial meningkatkan exposure secara luar biasa. Dulu, sebuah opini hanya didengar oleh beberapa orang. Sekarang, satu tweet dapat dilihat jutaan pengguna. Satu video TikTok dapat muncul di beranda orang yang bahkan tidak mengikuti akun tersebut. Satu meme dapat menyebar lintas platform dalam hitungan jam. Bahkan di Threads, satu utas bisa dibaca bahkan oleh orang yang sama sekali tidak kenal dengan si pemilik utas.
Dalam bahasa kebencanaan, yang berubah bukan ancamannya, tetapi jumlah orang yang terpapar ancaman tersebut.
Algoritma Adalah Mesin Exposure Modern
Ada faktor lain yang sering dilupakan. Media sosial tidak menampilkan seluruh populasi secara merata. Algoritma cenderung mempromosikan konten yang menghasilkan interaksi tinggi. Konten yang memancing emosi. Konten yang memancing debat. Konten yang membuat orang setuju atau marah.
Akibatnya, yang muncul di beranda kita sering kali bukan representasi rata-rata suatu kelompok, melainkan representasi kelompok yang paling vokal. Bayangkan jika seluruh penduduk sebuah kota diwakili hanya oleh beberapa orang yang berbicara menggunakan pengeras suara. Cepat atau lambat kita akan mengira semua penduduk kota tersebut sama seperti mereka.
Inilah yang terjadi di media sosial. Kita semua, di jaman modern ini, rasanya adalah pengguna media sosial. Tapi dampak yang masing-masing dari kita hasilkan, pasti berbeda. Saya bukan pengguna medsos dengan exposure tinggi. Satu konten saya, mungkin cuma dianggap angin lalu oleh algoritma. Dan memang saya tidak terlalu mengejar itu. Sementara user lain, mungkin punya exposure lebih karena kontennya yang lebih disukai, bukan oleh orang lain, tapi oleh algoritma. Lalu DHUARRR! Meledak!
Vulnerability: Mengapa Fans Rival Lebih Mudah Terpicu?
![]() |
| Banjir jakarta. Jakarta lebih vulnerable terhadap bencana banjir karena posisinya (gambar oleh: Antara/SIGID KURNIAWAN) |
Dalam analisis risiko bencana, tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama. Hazard yang sama dapat menghasilkan dampak berbeda tergantung kondisi penerimanya. Kota Jakarta lebih vulnerable terhadap terjadinya banjir karena posisinya yang berada di elevasi rendah. Ditambah lagi dengan laju land subsidence yang sangat tinggi menurut para ahli. Ancaman banjir di kota lain mungkin levelnya sama dengan Jakarta. Tapi kondisi Jakarta membuatnya lebih rentan.
Hal yang sama terjadi dalam sepakbola. Sebuah tweet dari fans Arsenal mungkin terasa biasa saja bagi pendukung klub yang sedang menikmati kesuksesan. Namun tweet yang sama bisa terasa sangat mengganggu bagi pendukung klub rival yang sedang mengalami musim buruk. Dengan kata lain, kerentanan bukan hanya ditentukan oleh pesan yang disampaikan, tetapi juga oleh kondisi psikologis penerimanya.
Yes! Bangkitnya Arsenal terasa lebih vulnerable bagi pendukung klub lainnya. Terutama saat klub idolanya sedang terpuruk. Yah ibaratnya ada tetangga yang baru beli mobil LCGC, tanpa menyombongkan diri pun, si tetangga ini sudah membuat tetangganya yang iri dengki menjadi vulnerable.
Capacity: Kemampuan Menertawakan Diri Sendiri
Komponen terakhir adalah capacity. Dalam konteks kebencanaan, capacity adalah kemampuan untuk mengurangi dampak ancaman. Dalam sepakbola, capacity mungkin dapat diterjemahkan sebagai kemampuan untuk menerima ejekan, menertawakan kekalahan, dan tidak menganggap setiap komentar sebagai serangan pribadi.
Masalahnya, media sosial sering kali justru menurunkan kapasitas ini. Algoritma memberi penghargaan pada reaksi cepat, bukan refleksi mendalam. Maka tidak mengherankan jika perdebatan yang awalnya ringan berubah menjadi perang komentar yang berlangsung berhari-hari.
Jadi, Apakah Fans Arsenal Memang Paling Berisik?
Mungkin iya. Mungkin juga tidak.
Yang lebih menarik adalah kemungkinan bahwa kita hanya lebih sering mendengar mereka dibandingkan sebelumnya.
Dalam ilmu statistik, terdapat konsep yang disebut sampling bias, yaitu ketika sampel yang kita amati tidak mewakili keseluruhan populasi. Fans yang santai jarang viral. Akibatnya publik hanya melihat "ujung distribusi" dari suatu kelompok. Padahal mungkin mayoritas fans Arsenal biasa saja. Ini seperti mengestimasi rata-rata populasi hanya dari sampel ekstrem.
Dalam media sosial, fenomena ini terjadi setiap hari. Media sosial memberi insentif untuk menjadi ekstrem. Kita melihat sebagian kecil pengguna yang paling aktif, lalu tanpa sadar menganggap mereka mewakili seluruh kelompok.
Penutup
Dari sudut pandang ilmu kebencanaan, fenomena "Arsenal vs Everybody" tampaknya bukan semata-mata soal siapa yang paling berisik.
Fenomena tersebut lebih mirip hasil interaksi antara:
Hazard: performa dan narasi Arsenal.
Exposure: jangkauan media sosial.
Vulnerability: sensitivitas dan rivalitas antar pendukung.
Capacity: kemampuan masing-masing komunitas dalam menghadapi banter.
Paradoksnya adalah:
Arsenal tahun 2004 mungkin jauh lebih layak untuk "sombong" dibanding Arsenal sekarang.
Namun karena media sosial belum berkembang, dunia tidak terus-menerus mendengar suara fans Arsenal. Sebaliknya, Arsenal era sekarang mungkin belum mencapai level prestasi The Invincible, tetapi hidup di lingkungan dengan exposure hampir tak terbatas. Akibatnya, persepsi "fans Arsenal ada di mana-mana" menjadi jauh lebih kuat dibandingkan saat mereka benar-benar mendominasi liga dua dekade lalu.
Dalam bahasa kebencanaan: yang berubah bukan hanya besar ancamannya, tetapi terutama jumlah orang yang terpapar ancaman tersebut. Bahkan hazard yang sama, ketika exposure meningkat seratus kali lipat, akan menghasilkan persepsi risiko yang sangat berbeda.
Kadang yang berubah hanyalah algoritma yang menentukan apa yang kita lihat.

