Arsenal, Alien, dan Pelajaran Tentang Probabilitas

Image generated by ChatGPT

Intro

Saya percaya alien itu ada.

Tenang. Tulisan ini bukan tentang alien. Tulisan ini tentang probabilitas. Tentang bagaimana kita sering terjebak melihat dunia sebagai sesuatu yang hitam dan putih. Ada atau tidak ada. Benar atau salah. Menang atau kalah. Padahal sebagian besar kehidupan justru berada di wilayah abu-abu di antara keduanya.

Dan saya percaya pada banyak hal dengan kadar probabilitas tertentu.

Termasuk alien.

Termasuk Arsenal.


Arsenal vs Everybody

Reaksi Gabriel setelah gagal mengeksekusi penalti penentu yang membuat Arsenal gagal meraih gelar Liga Champions pertamanya

Setelah final Liga Champions semalam, lini masa media sosial penuh dengan komentar para penggemar sepakbola. Seperti biasa, Liga Champions selalu berhasil menyedot perhatian bahkan dari orang-orang yang tidak mendukung kedua klub yang bertanding.

Dan final tahun ini terasa seperti Arsenal versus everybody. Kemenangan PSG dianggap kemenangan sepakbola. Arsenal dituduh membawa gaya sepakbola haram. Semua orang, kecuali fans Arsenal, mendadak bersatu. Demi sepakbola, katanya. 

Ketika penalti Gabriel gagal, sorak sorai pun pecah di berbagai sudut internet.

Arsenal kalah. Mimpi merengkuh gelar Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, pupus sudah.

Sebagai fans Arsenal, tentu saya kecewa. Tetapi yang lebih menarik perhatian saya justru bukan hasil pertandingan, melainkan komentar-komentar setelahnya.

Salah satunya berbunyi kira-kira seperti ini:

"Orang waras mana yang berharap menang dengan statistik seperti itu?"

Komentar tersebut disertai tangkapan layar statistik pertandingan. Ball possession hanya 28%. Jumlah serangan kalah. Jumlah tembakan kalah. Hampir semua indikator statistik menunjukkan dominasi PSG.

Secara objektif, memang sulit membantahnya.

PSG benar-benar mendominasi pertandingan. Arsenal unggul lebih dulu, lalu praktis menghabiskan sebagian besar pertandingan dengan bertahan. Dari grafik momentum pertandingan, hampir sepanjang laga PSG terus menekan dan mengurung Arsenal di area pertahanannya sendiri.

Statistiknya juga tidak terlalu ramah bagi fans Arsenal. PSG menguasai bola hingga 75%, sementara Arsenal hanya 25%. PSG melepaskan 21 tembakan, Arsenal hanya 7. Sentuhan di kotak penalti lawan mencapai 43 berbanding 14. Bahkan dari sisi expected goals (xG), PSG mencatat 1,77 sementara Arsenal hanya 0,44.

Tetapi di sinilah letak perbedaan antara probabilitas dan kepastian.

xG Arsenal yang hanya 0,44 tidak berarti Arsenal mustahil menang. Itu hanya berarti peluang mereka mencetak gol lebih rendah dibanding PSG. Sebaliknya, xG PSG sebesar 1,77 juga tidak menjamin kemenangan.

Statistik menjelaskan apa yang paling mungkin terjadi. Bukan apa yang pasti terjadi.


Statistik Peluang dalam Sepakbola

Dalam sepakbola modern, ada satu istilah yang cukup populer: expected goals atau xG. Banyak orang menganggap xG sebagai alat ramalan skor. Padahal bukan.

xG sebenarnya adalah probabilitas sebuah peluang menjadi gol. Misalnya sebuah tembakan memiliki xG 0,7. Artinya, berdasarkan ribuan kejadian serupa di masa lalu, peluang tersebut rata-rata menghasilkan gol sebanyak 70% dari waktu yang ada. Bukan berarti pasti gol. Masih ada kemungkinan 30% bahwa peluang itu gagal. Dan 30% bukan angka kecil.

Kalau peluang 30% dianggap mustahil, tidak akan ada orang membeli tiket undian, tidak ada investor berani mengambil risiko, dan mungkin tidak ada mahasiswa yang berani mendaftar beasiswa LPDP.

Bahkan kalau kita sederhanakan, xG 0,44 berarti dari 100 pertandingan dengan kualitas peluang yang sama, Arsenal mungkin hanya akan mencetak sekitar 44 gol. Artinya dalam banyak skenario mereka memang kalah. Tetapi masih ada puluhan skenario lain di mana mereka mencetak gol dan menang.

Dan sepakbola hanya dimainkan satu kali, bukan 100 kali.

Itulah mengapa tim dengan statistik inferior kadang tetap menang. Karena pertandingan yang kita tonton adalah satu sampel dari sekian banyak kemungkinan yang bisa terjadi.

Kadang saya merasa banyak orang memahami angka, tetapi tidak memahami probabilitas.

Bayangkan sebuah tim menghasilkan total xG sebesar 3,0 sementara lawannya hanya 0,5. Secara statistik, tim pertama memang lebih layak menang. Tetapi "lebih layak" berbeda dengan "pasti menang".

Kalau xG 0,9 selalu menjadi gol, kita tidak perlu lagi menonton sepakbola. Cukup serahkan data pertandingan kepada komputer, jumlahkan seluruh xG, lalu bagikan trofi kepada tim dengan angka terbesar.

Masalahnya, dunia nyata tidak bekerja seperti itu.

Ada kiper yang tiba-tiba berubah menjadi tembok beton. Ingat Tim Krul di Piala Dunia 2014? Ada striker yang sedang terkena kutukan tiang gawang. Ada bola yang membentur tiga pemain lalu masuk ke gawang. Ada pula gol absurd yang lahir dari satu-satunya peluang sepanjang pertandingan.

Dan semua itu masih berada dalam ruang probabilitas yang sah. Statistik menggambarkan dunia yang paling mungkin terjadi. Sepakbola memperlihatkan dunia yang benar-benar terjadi. Dan keduanya tidak selalu sama.


Konsep Probabilitas dalam Bidang Konservasi

Menariknya, konsep probabilitas seperti ini tidak hanya digunakan dalam sepakbola. Di bidang yang saya geluti, konservasi satwa liar, probabilitas justru menjadi salah satu fondasi utama dalam pengambilan keputusan. 

Misalnya melalui Species Distribution Model (SDM), sebuah metode yang digunakan untuk memprediksi lokasi yang berpotensi menjadi habitat suatu spesies. Banyak orang membayangkan hasil SDM sebagai peta yang menunjukkan "di sini ada harimau" dan "di sini tidak ada harimau".

Padahal bukan begitu cara kerjanya.

Yang dihasilkan SDM sebenarnya adalah peta probabilitas. Setiap piksel pada peta memiliki nilai tertentu, misalnya 0,1; 0,5; atau 0,9. Nilai 0,9 tidak berarti harimau pasti ada di sana. Nilai 0,1 juga tidak berarti harimau pasti tidak ada di sana. 

Angka tersebut hanya menunjukkan tingkat kesesuaian habitat berdasarkan informasi yang tersedia. Dengan kata lain, lokasi bernilai 0,9 memiliki peluang lebih tinggi untuk ditemukan harimau dibanding lokasi bernilai 0,1. Tetapi tetap tidak ada jaminan.

Kalau dipikir-pikir, konsepnya tidak jauh berbeda dengan expected goals (xG) dalam sepakbola. Sebuah peluang dengan xG 0,8 tidak menjamin gol. Sebuah habitat dengan probabilitas kesesuaian 0,8 tidak menjamin keberadaan satwa.

Dalam kedua kasus tersebut, angka hanya menggambarkan apa yang lebih mungkin terjadi. Bukan apa yang pasti terjadi.

Dan justru di situlah keindahan ilmu pengetahuan. Kalau dunia bekerja secara deterministik sempurna, kita tidak perlu melakukan survei lapangan. Cukup jalankan model, lalu selesai. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Karena selalu ada faktor yang tidak terukur. Ada perilaku satwa yang belum kita pahami.

Ada gangguan manusia yang tidak tercatat. Ada perubahan lingkungan yang belum masuk ke dalam model. Sama seperti dalam sepakbola selalu ada kartu merah, bola membentur tiang, atau penyelamatan luar biasa yang tidak diprediksi sebelumnya.

Karena itu ketika seorang peneliti konservasi melihat area dengan probabilitas kehadiran harimau sebesar 80%, dia tidak mengatakan:

"Harimau pasti ada di sana."

Yang dia katakan adalah:

"Kalau saya harus memilih lokasi survei berikutnya, area ini adalah kandidat yang paling masuk akal."

Persis seperti seorang pelatih yang melihat timnya memiliki peluang menang 80%. Ia tetap harus memainkan pertandingan. Karena 80% bukan 100%.

Dan selama angka itu belum mencapai 100%, selalu ada ruang bagi kejutan. 

Saya kadang berpikir bahwa hidup kita sendiri mungkin lebih mirip peta probabilitas daripada peta kepastian. Tidak ada piksel yang bernilai 0 atau 1 secara mutlak. Sebagian besar berada di antara keduanya.

Dan seperti halnya dalam konservasi, statistik, maupun sepakbola, tugas kita bukan mencari kepastian yang sempurna. Melainkan mengambil keputusan terbaik berdasarkan probabilitas yang tersedia.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang mengetahui apa yang pasti akan terjadi. Hidup adalah tentang bergerak maju meskipun kita tidak pernah benar-benar tahu hasil akhirnya.

Statistik Peluang dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebenarnya, kehidupan sehari-hari juga penuh dengan probabilitas.

Besok pagi saya berangkat kerja. Apakah saya yakin 100% akan sampai tepat waktu?

Tidak.

Bisa saja kendaraan mogok. Bisa saja macet. Bisa saja hujan deras. Bisa saja ada kejadian tak terduga. Tetapi probabilitas saya sampai kantor tepat waktu cukup tinggi sehingga saya tetap berangkat.

Petani menanam padi tanpa jaminan panen berhasil. Pengusaha membuka usaha tanpa jaminan akan untung. Peneliti melakukan penelitian tanpa jaminan hipotesisnya terbukti. Bahkan ilmu pengetahuan sendiri dibangun di atas probabilitas.

Ketika seorang peneliti melaporkan bahwa hasilnya signifikan secara statistik, sebenarnya dia tidak sedang berkata, "Saya pasti benar."

Yang dia katakan adalah:

"Berdasarkan data yang saya miliki, kemungkinan saya salah cukup kecil sehingga kesimpulan ini layak dipercaya"

Ilmu pengetahuan tidak menjual kepastian. Ilmu pengetahuan mengelola ketidakpastian.

Karena itu saya selalu sedikit heran ketika ada orang yang berpikir bahwa sesuatu harus pasti terjadi atau pasti tidak terjadi.

Dunia nyata jauh lebih rumit. Ada kemungkinan besar. Ada kemungkinan kecil. Ada juga kemungkinan sangat kecil. Bahkan ada kemungkinan yang hampir mustahil.

Tetapi "hampir mustahil" tetap berbeda dengan "mustahil".

Kalau peluang Arsenal menang semalam benar-benar nol, pertandingan tidak perlu dimainkan. UEFA cukup melihat statistik lalu langsung mengirim trofi ke Paris.

Untungnya sepakbola tidak bekerja seperti itu.

Dan untungnya kehidupan juga tidak demikian.

Banyak hal besar dalam hidup lahir dari orang-orang yang tetap melangkah meskipun probabilitas keberhasilannya kecil. Mendaftar beasiswa yang peminatnya ribuan orang. Mengirim artikel ke jurnal dengan tingkat penerimaan rendah. Memulai bisnis ketika sebagian besar usaha baru gagal dalam beberapa tahun pertama. Menempuh studi doktoral ketika jalan di depannya terlihat panjang dan penuh ketidakpastian.

Kalau ukuran kewarasan adalah hanya berharap pada sesuatu yang peluangnya besar, mungkin banyak pencapaian luar biasa tidak pernah terjadi.


Penutup

Jadi ya, saya percaya alien itu ada.

Bukan karena saya memiliki bukti bahwa mereka pasti ada. Tetapi karena alam semesta terlalu besar untuk langsung menyimpulkan bahwa probabilitasnya nol.

Sama seperti saya tetap berharap Arsenal bisa menang semalam. Bukan karena saya yakin. Bukan karena statistik mendukung. Tetapi karena selama probabilitasnya belum nol, harapan masih punya tempat untuk hidup.

Dan mungkin itu pelajaran paling menarik dari probabilitas. Kita tidak harus yakin untuk berharap. Kadang cukup mengetahui bahwa kemungkinan itu masih ada.

Sekecil apa pun.

Certified remote pilot | interested in research related to geoinformatics, WebGIS, and UAV/drone | research student at Center for Environmental Remote Sensing (CEReS), Chiba University, Japan

Posting Komentar